Tampilkan postingan dengan label Analisis Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisis Wacana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2008

Kohesi & Koherensi Kalimat Iklan "Bajaj Pulsar DTS-I"

ANALISIS KOHESI DAN KOHERENSI KALIMAT PADA IKLAN

BAJAJ PULSAR DTS-I

oleh : R.A. Hartyanto

Larilah sekencang mungkin dan tak perlu berteriak ! Karena Pulsar 180 DTS-I* akan terus mengejar Anda hingga ke dalam terowongan terpanjang sekalipun. Dengarkan raungan mesin bertenaga 16,5 hp dengan torsi 15,22 newton meter yang menghasilkan kekuatan yang tak pernah Anda bayangkan. Siapkah Anda menaklukkan Black Terror yang satu ini ?


Kalimat diatas merupakan kalimat iklan berjenis iklan komersial. Adapun dari kalimat iklan diatas diperoleh hasil analisis sebagai berikut :

  • Penanda kohesi

  • Pronomina

Pada kalimat iklan diatas, pronomina diwakili oleh pemakaian kata “Anda” yang berfungsi sebagai pronomina persona kedua karena kata “anda” dimaksudkan untuk menetralkan hubungan, jadi iklan ini tidak diarahkan pada satu orang yang khusus.

  • Konjungsi

Kata “dan” pada “Larilah sekencang mungkin dan tak perlu berteriak!” dapat dikatakan sebagai konjungsi, tepatnya sebagai konjungsi koordinatif karena menghubungkan dua unsur yang sama pentingnya.

  • Koreferensi

Antara “Pulsar 180 DTS-I*” dan “Black Terror” maknanya sama sekali berbeda, akan tetapi “Pulsar 180 DTS-I*” sebagai kata yang digantikan dan “Black Terror” sebagai kata pengganti menunjuk ke referen yang sama.

  • Penanda Koherensi

    • Penekanan

Penambahan partikel –lah pada kata “Larilah”, -pun pada “sekalipun” serta partikel –kah pada kata “Siapkah” adalah bukti adanya penekanan pada kalimat iklan di atas.

    • Syarat hasil

Kata “karena” pada iklan diatas menyatakan hasil suatu kegiatan yang disertai dengan syarat-syarat yang harus dilakukan. Maksudnya ialah bahwa Pulsar 180 DTS-I* akan terus mengejar Anda hingga ke dalam terowongan terpanjang dengan syarat Anda berlari sekencang mungkin dan tak perlu berteriak.

    • Hasil simpulan

Pada akhir susunan kalimat iklan diatas ditambahkan sebuah penegasan yang berupa kesimpulan “Siapkah Anda menaklukkan Black Terror yang satu ini ?” maksud dari kesimpulan ini adalah : Siapkah Anda menaklukkan Pulsar 180 DTS-I ?(jika Pulsar 180 DTS-I* akan terus mengejar Anda hingga ke dalam terowongan terpanjang saat Anda berlari sekencang mungkin dan tak perlu berteriak)

Tindak Tutur Humor "Para Kiai"

ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM HUMOR PARA KIAI
(KETAWA SAMPAI SURGA) – BADAI FISILMIKAFFAH

oleh : R.A. Hartyanto

A. Pendahuluan

Sebelum membicarakan teori mengenai tindak tutur itu ada baiknya kita bicarakan dulu pembagian jenis kalimat yang dilakukan oleh para ahli tata bahasa tradisional. Menurut tata bahasa tradisional ada tiga jenis kalimat, yaitu (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat interogatif, dan (3) kalimat imperative. Ada juga yang menambahkan satu lagi, yaitu kalimat interjektif atau kalimat seruan. Tetapi di sini kita bicarakan yang tiga itu saja. Kalimat deklaratif adalah kalimat yang isinya hanya meminta pendengar atau yang mendengar kalimat itu untuk menaruh perhatian saja, tidak usah melakukan apa-apa, sebab maksud si pengujar hanya untuk memberitahukan saja. Kalimat interogatif adalah kalimat yang isinya meminta agar pendengar atau orang yang mendengar kalimat itu untuk memberi jawaban secara lisan. Jadi, yang diminta bukan hanya sekadar perhatian, melainkan juga jawaban. Sedangkan kalimat imperative adalah kalimat yang isinya meminta agar si pendengar atau yang mendengar kalimat itu memberi tanggapan berupa tindakan atau perbuatan yang diminta. (Chaer dan Leonie Agustina, 2004 : 50)

Austin (1962) dalam Chaer dan Leonie Agustina (2004 : 51) membedakan kalimat deklaratif berdasarkan maknanya menjadi kalimat konstantif dan kalimat performatif. Yang dimaksud dengan kalimat konstantif adalah kalimat yang berisi pernyataan belaka. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat performatif adalah kalimat yang berisi perlakuan.

Kemudian tindak tutur yang dilakngsungkan dengan kalimat performatif oleh Austin dirumuskan sebagai tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yaitu (1) tindak tutur lokusi, (2) tindak tutur ilokusi, (3) tindak tutur perlokusi.





B. Analisis Tindak Tutur dalam Humor Para Kiai

1. Tindak Tutur Lokusi.

Tindak tutur lokusi ialah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.

Pengertian lain mengenai lokusi juga dapat berarti tindak tutur yang dilakukan pembicara berhubungan dengan perkataan sesuatu seperti memutuskan, mendoakan, merestui, atau menuntut.

Dalam Humor Para Kiai ditemukan tindak tutur lokusi seperti pada salah satu humornya sebagai berikut :


ISTRI TETANGGA


Ini adalah cerita Kian Anwar ketika kuliah di Mesir. Karena tak kuat pisah terlalu lama dengan istrinya, Halimah, yang baru ia nikahi beberapa bulan, akhirnya Kiai Anwar membawa Halimah ke Mesir. Hitung-hitung melanjutkan bulan muda. Mereka tinggal di sebuah apartemen.

Hari demi hari mereka lalui dengan kebahagiaan. Hingga suatu pagi tiba-tiba Halimah berkata pada Kiai Anwar, “Abi, coba lihat tetangga sebelah itu !”nkata Halimah menunjuk tetangga sebelah apartemennya.

“Kenapa?” Tanya Kiai Anwar heran.

“Mereka kelihatan bahagia sekali. Setiap kali suaminya pergi, pasti mencium istrinya. Terus pulangnya membawa sekuntum bunga. Romantis sekali. Kenapa Abi nggak seperti itu ?

“Mau mampus apa ? Aku kan nggak kenal sama istrinya ?” (hal. 48-49)


Kalimat yang bergaris bawah pada humor diatas menunjukkan adanya maksud menuntut dari si pembicara (istri) yakni dimana Halimah sebagai istri menyampaikan tuntutannya kepada sang suami mengapa suaminya setiap kali pergi tidak pernah mencium dirinya dan tidak membawa sekuntum bunga ketika pulang. Namun maksud sang istri diterima dengan pemahaman berbeda oleh sang suami yang menangkap maksud sang istri menuntut dirinya untuk berlaku romantis kepada perempuan di sebelah apartemennya.


2. Tindak Tutur Ilokusi

Tindak tutur ilokusi ialah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan klaimat performatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh menawarkan dan menjanjikan.

Tindak tutur ilokusi yang menunjukkan maksud penawaran terdapat juga pada humor berikut ini :


SETELAH MAGHRIB


Suatu hari beberapa Kiai sepuh berkumpul di Pesantren Kiai Anwar untuk mendengarkan penjelasan seorang ahli pesawat. Sang ahli pesawat itu bilang bahwa kini Indonesia sudah bisa membuah pesawat terbang ke bulan. Awalnya sang ahli pesawat bicara menggebu-gebu. Tapi begitu diperhatikannya para kiai yang hadir acuh tak acuh, sang ahli pesawat jadi heran sendiri. “Kenapa para hadirin seperti tidak ada yang tertarik dengan temuan kami ?” tanya sang ahli penasaran.

Beberapa Kiai saling berpandangan lalu salah seorang diantaranya angkat suara. “Kami tidak kagum dengan penemuan Anda, karena Amerika sudah lama bikin pesawat seperti itu. Kalau pesawat yang bisa menuju ke matahari, baru kami kagum dan bangga.

Mendengar hal itu, sang ahli tersenyum dan menjelaskan.”Maaf, Pak Kiai, kalau ke matahari itu panas sekali. Pesawat kita pasti akan melelh sebelum sampai ke sana.”

Lagi para Kiai saling berpandangan, sebagian mengangguk-angguk membenarkan ucapan sang ahli. Tapi tiba-tiba di barisan depan salah seorang Kiai berdiri, angkat suara : “Kalau takut panas, bukankah kita bisa berangkat habis Maghrib ? kenapa harus repot-repot ?” (hal. 56-57)


Kalimat yang bergaris bawah diatas menunjukkan sebah tindak tutur ilokusi dimana menyampaikan maksud untuk menawarkan atau mengusulkan atas pokok pembicaraan yang sedang berlangsung meskipun usulan atau penawaran yang disampaikan tidak masuk akal.


3. Tindak Tutur Perlokusi

Tindak tutur perlokusi ialah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku non linguistic dari orang itu.


KIAI SHODIK MENJARING PSK


Menjelang Ramadhan Kiai Shodik gelisah karena di sekitar pesantren masih banyak berkeliaran perempuan penjajaseks. Tak mau ambil resiko, Kiai Shodik segera menghubungi Pemda setempat yang kemudian melakukan operasi penertiban.

Kiai Shodik ikut mengantar dan menyaksikan jalannya operasi itu. Beberapa PSK memang berhasil kabur ketika petugas baru saja sampai di lokasi. Tapi banyak juga yang berhasil ditangkap. Meski sebagian dari mereka meronta-ronta, ingin kabur juga. Suasana jadi rebut dan gaduh. Kiai Shodik yang tanggap situasi, segera menenangkan.

“Tenang, tenang. Kalian hanya mau di bawa ke Dinas Sosial saja. Bukannya ditahan,” kata Kiai Shodik bijaksana.

“Betul kata Pak Kiai. Jadi kalian jangan takut, sahut petugas Pemda.

Pada saat itu seorang PSK yang sudah berhasil ditangkap menyahut dengan suara keras ;”Kalo saya sih mau dibawa kemana aja nggak masalah. Yang penting tarifnya cocok. Iya khan, Pak Kiai?!”

Kiai Shodik geleng-geleng kepala. (hal. 64-65)


Kalimat yang bergaris bawah diatas merupakan sebuah tindak tutur perlokusi karena bermaksud untuk mempengaruhi atau membuat si pendengar untuk melakukan sesuatu seperti yang diucapkan oleh si pembicara. Pada kalimat itu, kalimat yang diucapkan oleh Kiai Shodik berusaha untuk membujuk para PSK untuk bisa tenang.

C. Penutup

Dari hasil analisis yang telah diutarakan diatas, dapat diketahui mengenai keberadaan tindak tutur dalam Humor Para Kiai (Tertawa Sampai Surga) yang dapat berupa tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, maupun tindak tutur perlokusi. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa tindak tutur selalu terjadi pada setiap aktifitas komunikasi / aktifitas berbahasa yang dilakukan oleh setiap masyarakat bahasa dari setiap golongan sekalipun itu dari golongan para Kiai.


D. Daftar Rujukan

Badai Fismikaffah, 1997. Humor Para Kiai (Ketawa Sampai Purga). Yogyakarta : Lafal Indonesia.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik : Perkenalan Awal. Jakarta : Rineka Cipta



Tindak Tutur dan Kerjasama Partisipan

ANALISIS UNSUR TINDAK TUTUR DAN KERJASAMA PARTISIPAN DALAM STRUKTUR PEMBENTUKAN PERCAKAPAN

oleh : R.A. Hartyanto



Analisis percakapan ialah pembahasan percakapan atas unsur-unsur pembentuknya, baik verbal maupun non verbal.

Menurut Richard (1982) ada sepuluh unsur struktur pembentukan percakapan :

  1. kerjasama partisipan

  2. tindak tutur

  3. penggalan pasangan percakapan

  4. pembukaan dan penutupan percakapan

  5. kesempatan berbicara

  6. sifat rangkaian tuturan

  7. keberlangsungan percakapan

  8. topik percakapan

  9. tata bahasa percakapan

  10. analisis alih kode


KERJASAMA PARTISIPAN

Kerjasama Partisipan adalah keterlibatan participan dalam membentuk percakapan lengkap dengan unsur yang dibutuhkannya.

Unsur-unsur kerjasama dalam percakapan (maksim) menurut Grice terbagi atas empat jenis :

  1. Maksim kuantitas

Maksim kuantitas ialah kerjasama berbentuk jawaban yang belum pasti

Contoh :

  1. - Ada niat balik lagi ?

- Kalau memang jodoh, kenapa tidak. Yang jelas, sebagai teman itu pasti. Kalau kita bisa menemukan kecocokan lagi, ya lihat ke depan nanti. Yang pasti, semua orang ingin menemukan jodohnya.

(Jawa Pos, Rabu 3 Mei 2006)

  1. Yang lain : Siapa lagi ?

Yang itu : Siapa lagi !!! kalau tidak si gendut ya si Jangkung !!!

  1. Maksim kualitas

Maksim kualitas ialah kerjasama dalam bentuk jawaban yang sesuai

Contoh :

  1. - Kabarnya, Roger merasa dimanfaatkan Shandy ?

- Nggak, sama sekali. Nggak ada yang dikeluarkan juga (tertawa)

(Jawa Pos, Rabu 3 Mei 2006)

  1. Nyonya : Tuan berani berapa ?

Tuan : Seratus

  1. Maksim relasi

Maksim relasi ialah kerjasama dalam bentuk jawaban yang belum sesuangguhnya, bergantung pada interpretasi penanya.

Contoh :

  1. - Menurut Anda, sejauh mana efektifitas kegiatan seperti ini terhadap kemajuan teknologi di Indonesia ?

- Relatif sulit untuk mengukur tingkat efektivitasnya. Yang jelas, ajang seperti ini akan merangsang kreativitas mahasiswa. Ide-ide baru yang muncul semoga dapat membawa kemajuan teknologi di Indonesia.

Ajang semacam ini dapat memunculkan ide dan kreatifitas. Semangat anak bangsa untuk melahirkan ide, menciptakan kreasi, dan mewujudkan dalam karya nyata merupakan modal yang penting yang akan membawa bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain yang telah maju.

(Jawa Pos, Rabu 3 Mei 2006)

  1. Nyonya : Bagaimana menuntut seseorang yang tidak bisa bicara lagi ?

Ponakan C : Kami punya bukti yang cukup



  1. Nyonya : Jadi dia mengakui ? apa yang diakuinya ?

Ponakan B : (Membaca kertas itu berbisik-bisik) Pokoknya, uang tanah pusaka telah diserahkan pada istrinya.

  1. Maksim cara

Maksim cara ialah kerjasama yang berbentuk jawaban yang tidak langsung menjawab pertanyaan karena kebiasaan.

Contoh :

  1. - Apakah Anda juga sempat ditawari masuk PBR ?

- Saya ini anggota DPD, jadi tidak boleh menjadi anggota partai politik. Kalau saya jadi anggota parpol, saya harus mundur dari DPD. Tapi kalau membantu, boleh. (tomy c.gutomo)

(Jawa Pos, Selasa 2 Mei 2006)

  1. Laras : Bagaimana saya tidak ragu ? Di desa ini, perawan mana yang tidak ingin jadi istri keduamu?

Jarkoni : Itu kan dugaan Mbakyu, Tapi kalau toh betul begitu, itu urusan mereka. Bagi saya Mbakyu adalah segalanya. Tanpa Mbakyu, hidup saya jadi hambar. Sungguh Mbakyu, aduh, gemes, gemes. Kangeeen... oh...

(Festival topeng, 2006 : 350)

  1. Laras : Kamu yakin bisa memenuhi permintaanku ?

Jarkoni : Adalah suatu kebahagiaan, bisa memenuhi permintaan orang yang saya cintai.

(Festival topeng, 2006 : 377)









TINDAK TUTUR

Tindak tutur ialah segala sesuatu yang kita lakukan dalam rangka berbicara. Selain itu, tindak tutur ialah suatu unit bahasa terkecil yang berfungsi dalam rangka berbicara

Keberagaman tindak tutur :

  1. Berdasarkan jenisnya

    1. Tindak Representatif

Tindak representatif ialah tindak dari penutur yang berfungsi menetapkan atau menjelaskan sesuatu itu seperti apa adanya.

Contoh :

    1. Sobrat : (MENGELUARKAN BIJI EMAS)

Lihat ini Rasminah, Mereka kuberi ini, biji-bijian emas sebesar biji salah maka aku bebas. Penjagamu yang di depan itu, juga kubagi semua seperti ini.

(Sobrat, 2006 : 99)

    1. Tindak Komisif

Tindak komisif ialah tuturan yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu, seperti tindak berjanji, bernazar, bersumpah, dan sebagainya.

Contoh :

    1. Silbi : Aku tahu ini tak biasa. Tapi, bisa kalau kamu mau kembali ke sana !

Sobrat : Baik, aku mau kawin denganmu asalkan aku bisa kaya !

(Sobrat, 2006 : 70)

    1. Peang : Tidak, Kang. Ini bukan hanya persoalan Sampean, atau Mas Mitro dan Mas Blentung. Ini persoalan kita semua. Saya harus ikut. Ya nggak, Panjul ?

Panjul : Sepakat. Akur…

(Festival Topeng, 2006 : 312)


    1. Tindak Direktif

Tindak direktif ialah tuturan yang berfungsi mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu, seperti mengusulkan, memohon, mendesak, dan sebagainya.

Contoh :

    1. Yang tadi : habis nyakitin hati kan, silakan sampean kalau mau senam jantung terus menunggu-nunggu kedatangannya.

(Ciut Pas Sesak Pas, 2006 : 191)

    1. Gubil : Buka saja topengnya, buka!

Tuji : Jangan! Panitianya melihat kita. Bisa marah dia.

(Festival Topeng, 2006 : 291)

    1. Panitia : Mohon tenang Saudara-saudara. Tenang! Tertib!

(Festival Topeng, 2006 : 292)

    1. Tindak Ekspresif

Tindak ekspresif ialah tindak yang mencakup perasaan dan sikap, seperti tindak meminta maaf, berterima kasih, atau memuji pendengar.

Contoh :

  1. Kasmun : Setan semua. Kenapa kalian tidak menyusul?

Bawor : Maaf Kasmun, kami tidak jadi masuk karena takut melihat Mas Mitro marah-marah

(Festival Topeng, 2006 : 360)

  1. Satilawati : (Berasa kasihan) Maafkanlah segala perkataanku, yang kemarin itu, Kartili. Jangan dimasukkan ke dalam hati.

Kartili : (Tersenyum) Tentu tidak, Satilawati. Aku mengerti keadaanmu kemarin itu. Sekarang aku memuji kesetiaanmu terhadap Ishak. Sungguhpun telah engkau ketahui, bahwa ia...


    1. Tindak Deklaratif

Tindak deklaratif ialah tuturan yang berfungsi menetapkan, membenarkan, sesuatu tindak tutur lain.

Contoh :

1. Parmin : Lo, jangan senang dulu, jangan syukuran dulu. Kabar itu benar apa tidak ?

Sanwiradji : Eh, siapa bilang saya tidak gembira ? jelas saya gembira dong.

(Festival topeng, 2006 : 362)

2. Rektor kpl : Bagus, kalau begitu saya bisa melanjutkan pekerjaan saya

Oni : Kita lanjutkan dokter

3. Oni : Kita betul-betul orang pinggiran

  1. Berdasarkan sifat hubungannya

    1. Tindak Tutur Lokusi

Tindak tutur lokusi ialah tindak tutur yang dilakukan pembicara berhubungan dengan perkataan sesuatu seperti memutuskan, mendo’akan, merestui, atau menuntut.

Contoh :

  1. Sobrat : Besok kita pulang !

(Sobrat, 2006 : 94)

  1. Bromo : Pulanglah Nak, memang Kamu harus pulang. Biarkan aku disini dalam duniaku. Tanah jawa sebenarnya kaya raya hanya aku saja yang lupa. Kamu jangan, sekali lagi jangan. (PADA DOYONG DAN SAMOLO) Kalian pulanglah juga ! jangan pernah lupa jawa, jangan pernah lupa kampung kalian, pulanglah !

(Sobrat, 2006 : 96)



    1. Tindak Tutur Ilokusi

Tindak tutur ilokusi ialah tindak tutur yang dilakukan pembicara berkaitan dengan perbuatan dalam hubungan dengan mengatakan sesuatu.

Contoh :

  1. Wahyu : Saya sendiri tidak tahu, yang jelas, kabarnya Mbah Joyo akan segera pulang, itu saja. Tuh lihat Kamto. Tanya saja sama dia. Kamto, sini dulu ! Parmin mau nanya.

(Festival Topeng, 2006 : 362)

    1. Tindak Tutur Perlokusi

Tindak tutur perlokusi ialah tindak tutur yang mengakibatkan lawan bicara bertindak sesuatu.

Contoh :

  1. Laras : (MUNCUL) Tolong…tolooong... Suami saya, suami saya… toloong… (LARAS PINGSAN)

(Festival Topeng, 2006 : 391)

  1. Berdasarkan hakikat pemakaian

    1. Tindak Tutur Sopan Santun

    2. Tindak Tutur Penghormatan

    3. Tindak Tutur tidak Menghiraukan