Rabu, 06 Januari 2010

PEMBELAJARAN LANGIT KETUJUH



A. GURU DI UJUNG ZAMAN

Pagi-pagi sekali Pak Sodrun telah bersiap melaksanakan tugas mengajarnya, kegiatan rutin yang tampaknya mulai menjadi terpaksa harus selalu ia jalankan hanya untuk bisa menghidupi anak dan istrinya. Sebelum berangkat Pak Sodrun selalu memandang kalender yang tergantung di dinding rumahnya, menghitung dengan penuh harap kapan awal bulan akan datang dan sesegera mungkin dia akan menerima bayaran bulanan. Namun, mukanya menjadi lesu ketika saat itu kalender masih menunjukkan pertengahan bulan. Pak Sodrun mulai mengayuh sepedanya dengan sangat berat, keringatnya bercucuran. Sepeda yang dimiliki Pak Sodrun adalah satu-satunya peninggalan yang diwarisinya dari sang ayah.

Ayah Pak Sodrun dulunya adalah seorang guru, guru teladan di zamannya yang selalu berangkat pagi-pagi sekali mengayuh sepedanya menembus embun dan membelah sawah-sawah penduduk. Orang-orang yang ditemuinya di jalan selalu menyapanya: “Selamat pagi Pak Guru! Saya titip anak Saya ya!”. Begitulah dengan bangganya ayah Pak Sodrun menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi guru dulu, kini sepeda itu dikayuh oleh Pak Sodrun namun tidak dengan semangatnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Pak Sodrun?

Awalnya Pak Sodrun memiliki komitmen besar sebagai seorang guru, ia berangkat dari pengalaman-pengalaman sang ayah yang sangat heroik sebagai seorang guru, bahkan ia belajar dari nasihat-nasihat ayahnya tentang menjadi guru yang baik. Namun, komitmen itu berangsur-angsur pudar sejak beberapa tahun yang lalu. Saat itu Pak Sodrun mengayuh sepedanya dengan semangat berapi-api, keringat pun bercucuran dari keningnya, namun tidak seperti ayahnya dulu, sawah-sawah itu kini telah menjadi bangunan-bangunan padat yang dinamakan pabrik, jalan yang sepi berkabut dulu kini menjadi jalanan berdebu dan panas sekaligus dipadati kendaraan bermotor, satu persatu orang-orang yang ditemui Pak Sodrun di jalan tak sedikitpun yang memperhatikannya. Pemandangan yang sama setiap hari, yang tak pernah bersahabat dan tak pernah menghargai profesinya sebagai seorang guru.

Di depannya sudah nampak tembok beton tinggi menjulang yang merupakan pagar sekolah dimana tempat ia mengajar, meski sebenarnya jauh lebih mirip seperti pagar rumah tahanan. Keadaan di kelas juga tidak jauh berbeda, siswa-siswanya hanya menjadi tenang sejenak saat dia mengucap “Assalamualaikum anak-anak..” setelah itu kelas menjadi ramai dan gaduh sepanjang jam pelajaran, sepanjang hari, dan sepanjang tahun.

Kini Pak Sodrun hanya bisa duduk terpaku di meja kelasnya, Pak Sodrun tidak bisa berbuat apa-apa memandangi saja siswa-siswanya yang gaduh, yang onar, yang tidak punya semangat belajar. Begitupula dirinya yang tak punya semangat mengajar. Sampai akhirnya Pak Sodrun melipat kedua tanganya di atas meja dan menelungkupkan kepalanya, matanya terpejam.

B. MIMPI SEORANG GURU DI SIANG BOLONG

Pak Sodrun mulai bermimpi seorang siswa berseragam putih-putih dan bersayap melayang-layang di angkasa, sebelum akhirnya turun dan menarik tangannya ikut serta terbang menembus langit hingga lapis ketujuh. Kemudian Pak Sodrun tiba di sebuah tempat yang dinamakan sekolah.

C. SEKOLAH BERPAGAR HATI

Pak Sodrun masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, dalam hatinya dia terus bertanya-tanya, kalau tempat ini adalah sekolah, kenapa tidak ada pagar di sekelilingnya, seperti yang ada di sekolahnya? kalau sekolahnya seperti ini, tentulah siswa-siswanya dengan sangat mudah keluar-masuk sekolah tanpa permisi, bisa sejam datang dan sejam kemudian hilang. Dari kejauhan kemudian tampak seorang siswa yang melambaikan tangan dan mengepalkan tangannya seraya menepuk-nepuk dadanya, Pak Sodrun memahaminya sebagai jawaban bahwa sebenarnya pagar sekolah mereka hanya ada dalam hati mereka masing-masing. Begitulah mereka memagari sekolah ini dengan pagar hati, bukan dinding beton berukuran tinggi.

D. BELAJAR KAPANPUN DAN DI MANAPUN

Pak Sodrun terbelalak bukan main ketika mulai melihat aktivitas siswa yang sedang belajar di sekolah itu, mereka belajar di mana-mana. Di kelas, di taman, di bawah pohon, di lapangan, di dekat pancuran air, di kantin, di mana-mana mereka semua belajar dengan riang. Bahkan di kelas-kelas terdengar suara gemuruh, sesekali tepukan tangan, teriakan kegembiraan, bahkan suara ledakan-ledakan sebagai akibat dari percobaan-percobaan ilmiah yang mereka lakukan.

E. BELAJAR SEPERTI MELEDAKKAN PETASAN DI KEPALA SISWA

Mereka tampak sangat bersemangat, mereka tampak sangat menikmati pembelajarannya. Mungkin ini yang dinamakan pembelajaran dengan metode kuantum yang terkenal dengan istilah TANDUR-nya, yaitu dimulai dari Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan (De Porter: 2001)

Pak Sodrun kemudian melongok dari jendela kelas, mencoba mengintip apa yang terjadi di dalam kelas. Dilihatnya seorang guru sedang menerapkan pembelajaran kuantum dengan teknik pohon konsep, Pak Sodrun mengurutkan langkah-langkah yang mereka lakukan sebagai berikut:

1. Mula-mula siswa diminta untuk membentuk kelompok

2. Kemudian siswa menirukan bentuk pohon dengan memanfaatkan jumlah kelompok

3. Siswa mengidentifikasikan nama pohon berdasarkan materi yang dipelajari, misal pohon Asia, Amerika, Afrika, dan sebagainya.

4. Siswa menerima bendel buah konsep

5. Siswa memasukkan buah konsep ke batang pohon.

6. Siswa mengecek ketepatan buah konsep dengan batangnya.

7. Siswa menguatkan nama pohon konsep.

8. Siswa mempraktikkan isi buah konsep.

9. Siswa memetik buah konsep dari pohon konsep kemudian dikocok ulang dan diberikan ke siswa lagi.

10. Siswa mengecek ketepatan sekali lagi.

11. Siswa menguatkan konsep.

12. Dan terakhir siswa merayakan hasil pekerjaan mereka dengan bernyanyi. (Suyatno, 2009:43)

Pak Sodrun semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang guru mampu membuat pembelajaran itu seperti meledakkan sebuah petasan di kepala siswa.

F. KESABARAN SEORANG GURU ITU TIDAK PERNAH ADA BATASNYA

Seseorang menepuk pundak Pak Sodrun, “Bapak... kenapa hanya berdiri di balik jendela? Tidakkah lebih baik bila Bapak masuk ke dalam dan menemukan apa yang Bapak cari?” ucap lelaki yang mengagetkan Pak Sodrun tadi.

Kemudian Pak Sodrun menyalaminya, “Oh tidak terima kasih, Saya hanya kebetulan lewat saja.”

Dengan senyum ramah, lelaki tadi kembali bertanya, “Tapi Kenapa wajah Bapak terlihat murung dan sedih?”

“Saya sedih karena sepertinya hanya Sayalah guru yang tidak pernah dihargai murid-muridnya. Karena itulah saya sering marah dan sedih.”

“Mari Pak Saya traktir Bapak minum kopi di kantin, kita akan bicara banyak di sana!” lelaki tadi mengajak Pak Sodrun ke kantin dan berbicara tentang banyak hal, salah satu diantaranya adalah bagaimana seorang guru dalam melestarikan kesabarannya. Bahwa sabar itu sebenarnya tidak pernah ada batasnya, bila orang lain mengatakan bila dirinya sudah sampai pada batas kesabaran, maka sebenarnya orang itu belumlah dapat dikatakan sabar.

Dalam menghadapi siswa dengan berbagai macam kenakalannya juga dibutuhkan kesabaran dari guru, sesungguhnya ucapan guru merupakan do’a bagi anak didiknya. Jangan pernah lelah mendo’akan kebaikan bagi anak-anak didik. Jika berkat do’a guru, anak-anak bisa tumbuh dengan baik dan berhasil, tentu guru juga akan ikut merasakan bahagia. Namun sebaliknya, jika anak itu nakal, kemudian guru mendo’akan kejelekan bagi mereka sehingga anak itu benar-benar menjadi nakal dan tidak bisa diperbaiki lagi sifatnya, sesungguhnya guru telah mengutuk mereka. Berarti, secara tidak langsung guru memohon keburukan bagi mereka. Seperti yang dikatakan Jabir Ibnu Abdullah r.a. (Asfandiyar, 2009:95) bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Janganlah kalian mendo’akan kebinasaan terhadap diri kalian; janganlah kalian mendo’akan kebinasaan terhadap anak-anak kalian; janganlah kalian mendo’akan kebinasaan terhadap pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendo’akan kemusnahan terhadap harta benda kalian agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat dari Allah yang di dalamnya semua permintaan diberi, kemudian (doa) kalian diperkenankan.” (HR Muslim)

Sadarlah kemudian Pak Sodrun bahwa lelaki yang sedang berbicara dengannya adalah seorang guru agama. Setelah menghabiskan kopinya, kemudian Pak Sodrun pamit untuk melanjutkan acara keliling-keliling sekolahnya.

G. DUNIA ANAK ADALAH DUNIA BERMAIN, JANGAN DEWASAKAN MEREKA SEBELUM WAKTUNYA!

Melihat anak-anak belajar sambil bermain seperti itu, khawatirlah Pak Sodrun kalau-kalau nantinya anak-anak di sekolah itu kelewat batas dan kegiatan yang dilakukan hanya menjadi aktivitas bermain saja. Tapi seorang tukang kebun yang tanpa sengaja mendengar gumam pak Sodrun dengan senyum ramah memberikan pengertian bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain, berbeda dengan dunia orang dewasa, jadi apapun yang dilakukan oleh anak-anak akan terasa sangat berkesan bila dikemas dengan sesuatu yang berbau permainan. Hal-hal tersebut untuk menyalurkan kebutuhan psikomotorik anak yang sedang tumbuh aktif pada masa-masa seperti itu. Maka tugas seorang guru adalah mengawasi proses bermain dan belajar mereka agar satu sama lain tetap bersinergi.

Mungkin karena itu juga, sehingga guru-guru yang ada di sini mayoritas berusia muda, karena jarak usia antara guru dan murid yang ada di sini tidak diperkenankan lebih dari 15 tahun. “Lalu bagaimana dengan guru-guru yang jarak usia dengan muridnya lebih dari 15 tahun? Usia seseorang kan selalu bertambah?” tanya Pak Sodrun penasaran.

“Mereka akan mulai alih tugas menjadi guru di jenjang yang lebih tinggi atau berhak atas jabatan yang lebih tinggi seperti kepala sekolah, pengawas, kepala dinas, dan lain-lain. Jadi kompetisi untuk memperoleh jabatan di sini benar-benar dilakukan secara sehat berdasarkan kompetensi dan pengalaman bukan karena uang dan kekuasaan.” Jawab tukang kebun dengan lugas.

Usia guru yang tidak terlalu terpaut jauh dari siswanya akan memudahkan mereka dalam memperlakukan anak sesuai dengan usianya. Anak adalah tetap anak-anak, bukan orang dewasa ukuran mini. Mereka juga memiliki dunia tersendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak. Untuk itu, menghadapi mereka dibutuhkan kesabaran, pengertian, dan toleransi yang mendalam. (Asfandiyar, 2009:74)

Jadi, jika Saya analogikan sebagai buah mangga, maka mangga yang dipaksa masak sebelum waktunya dengan penggunaan obat-obatan pemercepat proses pemasakan hasilnya juga tidak baik, sebab buah seperti itu biasanya akan cepat pula proses pembusukannya.

“Luar biasa, bahkan seorang tukang kebun saja bisa menjelaskan hal-hal seperti itu.” Gumam Pak Sodrun takjub.

H. KELAS ADALAH RUANG LABORATORIUM TERINDAH

Pak Sodrun kemudian bertanya kepada tukang kebun tentang keberadaan ruang Laboratorium yang biasanya menyimpan segala media, serta alat bantu pembelajaran. Tukang kebun tadi hanya menjawab: “Tidak ada ruang laboratorium di sekolah ini, karena pada dasarnya segala sesuatu yang diperlukan di dalam laboratorium sudah ada di setiap kelas”.

Pak Sodrun semakin tidak percaya, dia berlari kencang ke salah satu kelas dan mengintip keadaan di dalamnya, terlihat dinding kelas yang di cat warna-warni bernuansa cerah ceria, masing-masing kelas mengusung tema yang berbeda-beda. Tentulah dapat ditebak bahwa pengelompokan siswa di masing-masing kelas adalah berdasarkan kesamaan karakteristik dan kecerdasan siswa, jadi ada kelas yang mengusung tema “Back to the nature” dimana hiasan-hiasan yang digunakan di dalamnya menggunakan bahan-bahan alami produk alam. Pastilah penghuninya adalah siswa-siswa yang memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi. Ada juga kelas yang dihias dan diatur sedemikian rupa sehingga meja-mejanya dibuat melingkar menyerupai meja bar yang biasa ada di kafe-kafe, dan di tengah-tengah kelas ada sebuah panggung, tempat siswa mendemonstrasikan pekerjaan dan keahliannya. Tentulah ini kelas dengan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan musik dan cita rasa seni yang tinggi.

Kemudian Pak Sodrun tertarik di salah satu kelas dengan dinding-dindingnya yang dipenuhi dengan gambar-bambar tokoh paling berpengaruh di dunia, tidak ketinggalan juga pahlawan-pahlawan nasional Indonesia juga ikut nampang di salah satu dindingnya. Di bagian depan, gambar presiden dan wakil presiden terlihat mengapit replika burung garuda, bagian ini hampir sama dengan apa yang sudah ada di kelas Pak Sodrun, bedanya hanya senyum presiden dan wakil presiden yang terlihat lebih lebar dan lebih lepas dari gambar yang ada di kelas Pak Sodrun. Sedangkan bagian dinding yang lain dihabiskan sebagai tempat menggantung kumpulan portofolio hasil pekerjaan siswa.

Seorang guru yang masih muda tampak melempar senyum ketika mengetahui Pak Sodrun sedang memperhatikan dirinya. Pak Sodrun pun tak mampu beranjak terpukau, ketika mengetahui di sekolah ini seorang guru tidak pernah lagi menggunakan kalimat “Baiklah anak-anak, silahkan di buka buku pelajarannya!” tetapi “Baiklah anak-anak silahkan dibuka netbooknya!”Setiap siswa di sekolah ini memang tidak lagi menggunakan buku-buku pelajaran, karena materi pembelajaran sudah disiapkan dalam bentuk buku elektronik yang dapat diunduh kapanpun dan dimanapun melalui fasilitas internet. Setiap netbook di sekolah ini telah terhubung secara on-line sehingga memungkinkan siswa untuk bisa berkomunikasi dengan setiap orang yang ada di sekolah ini.

Tampak di kelas ini hanya ada beberapa siswa dan seorang guru saja, “dimana siswa-siswa yang lain?” kata Pak Sodrun. Kemudian guru muda tadi menghampiri layar besar seukuran papan tulis yang ada di muka kelas, layar tersebut menggunakan sistem touch screen sehingga untuk mengoperasikannya hanya perlu disentuh saja. Tak ada lagi spidol boardmaker, tak ada lagi kapur tulis.

Dalam sekali sentuh, layar tadi otomatis berubah membagi diri menjadi beberapa bagian, tampak jelas di sana gambar beberapa siswa yang terhubung melalui web cam. “Inilah siswa-siswa lain yang saat ini sedang berhalangan hadir, mereka tetap mengikuti pelajaran, dan mereka juga tetap dapat berinteraksi sebagaimana siswa-siswa lain yang berada di kelas”. Pak Sodrun hanya bisa menggelengkan kepala.

I. MENGEMBANGKAN YANG ADA, MENGUSAHAKAN YANG BELUM ADA

Pak Sodrun juga berkesempatan bertemu dengan orang yang memimpin sekolah ini, ditanyakannya rahasia dibalik kepemimpinan sekolah yang baru kali ini ditemuinya itu. Kepala sekolah hanya tersenyum simpul, dikatakannya bahwa semua itu kembali pada diri setiap individu masing-masing, setiap orang memiliki peranan tersendiri yang semuanya harus berlandaskan ketulusan hati. Apa yang sudah ada haruslah dapat dikembangkan, sedangkan apa yang belum ada haruslah menjadi prioritas untuk diadakan di masa yang akan datang.

Pak Sodrun juga menanyakan, bagaimana mungkin seorang guru bisa menyiapkan segala sesuatunya hingga sedetail ini? Sesempurna ini? Kemudian kepala sekolah membawanya ke ruang kerja. “Masing-masing guru di sini tidak bekerja sendirian, mereka dibantu oleh beberapa ahli yang terhimpun dalam beberapa departemen yang menangani bagian-bagian tertentu seperti bagian pembuatan media, bagian penyusunan materi pembelajaran, bagian penelitian tindakan kelas, dan lain-lain yang semuanya bekerja layaknya sebuah konsultan pendidikan. Sedangkan tugas guru adalah sebagai penentu metode atau teknik apa yang tepat untuk disajikan kepada siswa berdasarkan karakteristik kelas. Selain itu juga untuk menentukan media yang tepat untuk mengoptimalkan perilaku belajar yang dimiliki masing-masing siswa. Setiap orang memunculkan perilaku belajar yang berbeda, keunikan perilaku belajar ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik yang menentukan perilaku belajar, seperti: gaya belajar (visual vs auditif), gaya kognitif (field dependent vs field independent), bakat, minat, tingkat kecerdasan, kematangan intelektual, dan lainnya yang bisa diacukan pada karakteristik individual siswa. (Degeng, 2008:13)

Kepala sekolah juga menjelaskan bahwa tidak semua pembelajaran di sini menganut aliran konstruktivistik, pada kelas-kelas tertentu yang mungkin memang karakteristik siswanya tidak cocok dengan pembelajaran model konstruktivistik maka digunakanlah metode konvensional yang tentunya dengan sedikit pengembangan. Intinya, apapun model pembelajarannya selama semua itu membawa kemajuan dan manfaat positif bagi siswa maka semuanya akan diterapkan.

Pak Sodrun berkeringat dingin, dia merasa tidak pantas bila berada di sini, banyak hal yang harus dibenahi dalam dirinya sebagai seorang guru, Pak Sodrun mengundurkan diri dan segera mencari jalan pulang, kembali ke dunianya, sekolahnya, dan siswa-siswa yang telah menunggu kreasinya.

Bunyi bel panjang membangunkan Pak Sodrun dari mimpinya, Pak Sodrun segera mengakhiri pembelajaran hari itu dan sesegera mungkin menyusun rencana untuk pembelajaran esok hari

J. KOMITMEN DALAM MENYIKAPI PERUBAHAN

Pak Sodrun mulai menyadari bahwa apa yang dia pelajari dari ayahnya saja tidak cukup menjadi bekal bagi profesinya sebagai seorang guru. Perubahan zaman juga mempengaruhi perubahan paradigma baru dalam pendidikan. Itulah yang saat ini sedang dipikirkan Pak Sodrun, yaitu tentang perubahan.

Perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Suka atau tidak suka, kita tidak bisa lari menjauh dari perubahan—karena semua di sekeliling kita juga sama-sama bergerak. Sesuatu yang baru kita lalui misalnya, sedetik kemudian akan menjadi masa yang telah lewat. Namun demikian, meskipun perubahan merupakan kepastian, tapi kita harus tetap berpegang teguh pada komitmen dalam menyikapi perubahan. (Mudhi’uddin, 2009:102)

Pak Sodrun mengambil kapur dan menuliskan sebuah kalimat besar-besar di dinding kelas; MANUSIA BARU TELAH LAHIR, SEMANGAT BARU TELAH TERUKIR. Seluruh siswa memandang heran, berharap sesuatu yang buruk tidak menimpa gurunya itu.

K. KEPUSTAKAAN

Asfandiyar, Andi Yudha. 2009. Kenapa Guru Harus Kreatif? Bandung: Dar! Mizan.

Degeng, I Nyoman Sudana. 2008. Media Pembelajaran: Menuju Pribadi Unggul Lewat Perbaikan Kualitas Belajar Mengajar. Surabaya: UNIPA University Press.

KTSP DALAM PROBLEMATIKA PENDIDIKAN: KEMAJUAN YANG JAUH DI MATA NAMUN DEKAT DI HATI


  1. PENDAHULUAN

Jika boleh kita punya pikiran buruk terhadap negara-negara maju, maka sesungguhnya mereka dengan digdayanya telah memonopoli “status sosial” negara-negara lain yang berada di bawahnya. Contohnya negara kita sendiri, status “negara berkembang” yang disandang Indonesia selama bertahun-tahun merupakan suatu bentuk monopoli kecil dalam bentuk bahasa yang menguntungkan bagi negara-negara maju. Bagaimana tidak? Status “begara berkembang” sebenarnya telah menempatkan Indonesia di urutan menengah ke bawah.

Selama bertahun-tahun Indonesia berkembang, namun gelar “negara berkembang” terus melekat untuk negara Indonesia, tak perduli seberapa besar pun perkembangan yang telah kita ciptakan. Tak perduli juga seberapa besar kemajuan yang telah kita raih atas perkembangan-perkembangan yang kita ciptakan. Apakah Indonesia ditakdirkan untuk menunggu sampai negara-negara maju tadi berubah status menjadi “negara statis/negara diam di tempat” baru kemudian Indonesia mendapatkan status “negara maju?” Saya rasa tidak perlu, sebab pada dasarnya negara kita ini sudah merupakan negara maju. Kata “berkembang” adalah prosesnya, sedangkan kata “maju” adalah sebagai suatu hasil.

Kemajuan itu sebenarnya dapat kita rasakan dalam berbagai bidang, salah-satunya adalah dalam bidang pendidikan. Contoh konkrit adalah dengan munculnya KTSP sebagai suatu kurikulum baru yang justru oleh sebagian masyarakat terutama oleh para pelaksana pendidikan di Indonesia disikapi dengan rasa pesimis dan “sakit hati”. Kemunculan nama beberapa kurikulum baru dalam jangka waktu yang relatif singkat hingga yang terakhir ini disebut dengan KTSP telah meresahkan hati para pendidik karena dianggap sebagai bentuk ketidak ajegan pemerintah dalam usaha mencapai dan melaksanakan visi dan misi pendidikan Indonesia. Padahal jika kita sikapi dengan hati dan pikiran yang jernih, maka sebenarnya kemunculan beberapa kurikulum baru itu bukanlah merupakan suatu perubahan, tetapi lebih kepada perkembangan yang nantinya akan dapat kita rasakan hasilnya sebagai suatu kemajuan. Oleh karena itu, perlulah kiranya kita sebagai warga negara Indonesia, terlebih sebagai para pendidik bangsa dapat memberikan sumbang pikir untuk mencari celah yang perlu dikembangkan demi mencapai tujuan pendidikan nasional.

B. KTSP: KEKUATAN DAN KELEMAHAN

Ada banyak istilah yang tercipta seiring kemunculan KTSP, mulai dari “Kurikulum Tidak Siap Pakai” hingga “Kurikulum Tidak Sulit Penerapannya”. Semua itu adalah sebagai bentuk pro dan kontra atas kehadiran KTSP sebagai suatu kurikulum yang dirasakan baru. Pro dan kontra tersebut kemudian tidak lepas dari analisa kekuatan dan kelemahan dari KTSP itu sendiri.

Kande (2008) dalam suatu kesimpulannya menyatakan bahwa KTSP sebagai kurikulum baru memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan KTSP adalah sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas sekolah dan sarana mengembangkan keunggulan lokal yang dapat mendorong terjadinya proses "globalisasi lokal" di Indonesia. Sedangkan kelemahan KTSP adalah meninggalkan celah besar dalam upaya pencapaian standar lulusan dan standar kelulusan. Kelemahan lain adalah KTSP menyimpan potensi destruktif yang dapat berakibat pada disintegrasi bangsa.

KTSP SEBAGAI SARANA PENGEMBANG KEMANDIRIAN

DAN KREATIVITAS

Berpijak pada kesimpulan yang dibuat oleh Kande di atas memang ada benarnya, KTSP lahir seiring dengan tuntutan perkembangan yang menghendaki desentralisasi, otonomi, fleksibilitas, dan keluwesan dalam penyelenggaraan pendidikan. Seperti kita ketahui bersama, sistem pendidikan di negara kita telah cukup lama terpaku dengan sistem pendidikan yang sentralistik sehingga menyebabkan sekolah—terutama di daerah-daerah mengalami suatu ketergantungan tingkat tinggi terhadap pusat, dapatlah ditebak bahwa hal itu juga mengurangi tingkat kemandirian dan kreativitas sekolah.

Sistem pendidikan yang sentralistik bukan berarti salah sepenuhnya dalam proses pembentukan charachter nation di Indonesia. Sebab, walau bagaimanapun juga sudah sejak dahulu kala negara Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman karakter, jadi memang akan ditemui kendala jika kita akan menciptakan suatu character nation. Sistem pendidikan yang sentralistik juga harus diakui telah membawa beberapa kemajuan di zamannya. Namun sebagai negara yang terus selalu berkembang untuk maju, sudah sepantasnya kita mencari solusi lebih tepat untuk lebih mengoptimalkan kemajuan yang ingin kita raih dalam menghadapi perubahan zaman.

Sampai saat ini, otonomi daerahlah yang diharapkan dapat menjawab tantangan atas perubahan itu. Otonomi daerah merupakan konsep paradigmatik di mana komponen yang menyertainya sebagai sebuah sistem belum jelas benar. Pola ketergantungan antarkomponen belum bisa diprediksi standardisasinya, sekaligus belum diperikan secara rinci.

Kalangan yang optimis berpandangan, pendidikan di bawah otonomi daerah akan meningkatkan mutu akuntabilitas pengelolaan pendidikan, baik internal maupun eksternal. Prakarsa administrator pendidikan di daerah akan tumbuh kembang menggembirakan tanpa menunggu instruksi dan konsultasi instansial ke atas. Ketatausahaan pendidikan pun akan mengalami kelancaran dari yang selama ini terjadi mengingat pendeknya meja birokrasi. Sedangkan kalangan yang pesimis justru berpandangan lain. Otonomi daerah akan mengukuhkan subkultur arogansi kekuasaan akibat belum otonomnya perilaku institusi kependidikan. Bahkan ada kemungkinan makin intensifnya rongrongan terhadap kewibawaan pendidikan melalui penyalahgunaan fungsi administratif. Kecenderungan merasa paling berkuasa di kalangan pegawai Dinas P&K sulit untuk bisa dihindari. Sehingga derajat kebergantungan para praktisi pendidikan dasar dan menengah akan menimbulkan dampak tidak sehatnya iklim edukatif. (Mutrofin, 2002:108)

Terlepas dari itu semua, kalau kita masih menunggu adanya perbaikan perilaku institusi kependidikan serta perbaikan fungsi administratif, maka pekerjaan rumah Indonesia dalam otonomi pendidikan akan terasa berat untuk diselesaikan.

PIHAK KETIGA ANTARA PENGEMBANGAN SILABUS

DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN ADALAH UNAS

Korelasi antara standar isi dan standar kelulusan adalah bahwa standar isi memberikan arahan bagi pengembangan silabus di tingkat sekolah yang selanjutnya diharapkan dapat mencapai standar kompetensi lulusan. Namun, antara pengembangan silabus dan standar kompetensi lulusan juga masih harus memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi sebagai akibat adanya Ujian Nasional (UNAS) yang turut andil dalam menentukan kelulusan. Ini menunjukkan bahwa masih ada keterbatasan bagi sekolah dalam pengembangan silabusnya.

Sementara itu, kalau terjadi masalah seperti rendahnya tingkat kelulusan, pengangguran tamatan sekolah dan di kalangan orang berpendidikan pada umumnya, sekolah mendapat tudingan. Biasanya alamat tudingan itu adalah kurikulum—kurikulum dikatakan tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Sekolah dikatakan menghasilkan tamatan yang rendah mutunya, tamatan yang “tidak siap pakai.” Terdengar seperti membela diri, orang pendidikan/sekolah mengatakan hal itu akibat situasi krisis, yang biangnya adalah kemelut masalah ekonomi dan politik. Daripada ngresula (berkeluh kesah, sifat fatalistik), dengan menggunakan pikiran positif orang pendidikan bertanya, Apa yang mesti dikerjakan sekolah? Bagaimana sekolah mendidik/membimbing siswa mengembangkan sikap positif dan sedia berbuat waktu menghadapi masalah? Waktu menghadapi tantangan? (Munandir, 2009:129-130)

KTSP DALAM KAITANNYA DENGAN PROBLEM KEBANGSAAN

Fenomena lain sebagai bentuk penyikapan kita terhadap KTSP adalah bahwa otonomi pendidikan yang terkandung dalam KTSP juga memiliki potensi destruktif bagi kesatuan bangsa. Kewenangan dalam pengembangan aspek-aspek yang menunjang ciri keberagaman karakteristik bangsa tidak dapat dimungkiri sekecil apapun bila tidak diawasi secara menyeluruh dapat menguatkan ciri kesukuan atau dengan lain dapat memperkuat karakteristik kesukuan bukan karakteristik kebangsaan sehingga cenderung menimbulkan persaingan yang dapat mempengaruhi nilai-nilai kesatuan.

Kelompok-kelompok dengan berbagai latar belakang yang berbeda jika tidak diikat dan terikat dalam sebuah kesadaran nationality maka dipastikan secara esensial sebenarnya tidak ada kesatuan, tidak ada kerekatan, dan warga terpecah-belah ke dalam latar belakang yang berbeda-beda itu. Keterpecahan itu menjadi potensi destruktif bagi kesatuan bangsa. (Kande, 2008)

C. PENUTUP

Beberapa problematika yang telah disebutkan di atas tidak perlu dijadikan alasan sebagai hambatan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, karena walau bagaimanapun setiap rintangan pasti ada jalan keluarnya. Kande (2008) juga sempat memberikan solusi dari berbagai kelemahan yang terdapat dalam KTSP, yaitu bahwasanya kelemahan KTSP dapat diatasi dengan menerapkan pendidikan multikulturalisme, selain itu juga konsisten menjalankan Pasal 72 PP 19/2005. Yaitu "Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:

a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;

c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan

d. lulus Ujian Nasional

Merujuk pada aturan di atas, maka dari segi implementasi, belum sesuai dengan aturan, yang mana hanya menggunakan UN sebagai patokan dalam menentukan kelulusan siswa. Pada pihak lain masih pasal yang sama ayat (2), "Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri". Di sini nampak belum konsistennya pemerintah, pada satu sisi menyerahkan tanggungjawab kepada pihak sekolah, tetapi pada pihak yang lain pemerintah ikut menentukan kelulusan. Pertanyaannya adalah apakah antara standar kelulusan yang ditentukan pihak pemerintah (BSNP) realistis dengan proses pembelajaran yang berlangsung di masing-masing sekolah di seluruh Indonesia. Apakah dari segi standar isi (SI) telah dipenuhi oleh seluruh sekolah di Indonesia sehingga dalam hal standar kelulusan pun (melalui UN) diberlakukan sama.

Dengan demikian, KTSP dalam perkembangan pendidikan dapat disikapi sebagai suatu kemajuan yang meski tampak jauh di mata namun dekat di hati.

D. KEPUSTAKAAN

Kande, Fredrik. 2008. Artikel: Membedah Kekuatan dan Kelemahan KTSP (Antara Globalisasi Lokal dan Ancaman Disintegrasi Bangsa). Yogyakarta.

Munandir. 2009. Kapita Selekta Pendidikan. Jakarta: AV Pustaka Publisher.

Mutrofin. 2002. Otokritik Pendidikan: Gagasan-Gagasan Evaluatif. Yogyakarta: LaksBang Pressindo.

Selasa, 03 November 2009

PAK CICIP GURU MUDA: MENGGAULI SENIORITAS GURU




Namaku Roshif, tapi murid-murid biasa memanggilku Pak Cicip. Aku mengajar di sebuah sekolah Negeri tingkat Menengah Atas sebagai Guru Tidak Tetap, jadi mengajarku juga tidak menetap. Bisa sehari di sini, dua hari di sana, satu jam di sini, berjam-jam di sana.. begitulah semua kulakukan dengan senang hati.

Ini adalah tahun keduaku sebagai seorang guru, namun perasaan gelisah mulai menggelayut dalam otak. Setahun kemarin aku merasa sukses mengajar dengan sangat menyenangkan, dengan sangat menggairahkan dan menjadi guru pujaan murid-murid karena membawakan teknik mengajar yang berbeda dari guru lain. Tapi, awal tahun ini rasanya benar-benar berbeda. Meskipun aku membawakan teknik mengajar yang sama dengan tahun yang lalu tetapi hasilnya tak semeriah tahun kemarin, muridku tak seceria tahun kemarin. Rasa-rasanya semua ilmu yang kupelajari selama empat tahun di bangku perkuliahan hanya mampu bertahan setahun saja untuk diterapkan. Keadaan ini sungguh menggelisahkan, menggelisahkanku sebagai guru baru. Aku butuh ilmu baru, aku butuh wawasan baru, aku benar-benar harus mengupdate teknik mengajarku.

SEPINTAS LALU

Berada di antara guru-guru yang telah bertahun-tahun mengajar memang kurang menyenangkan, kadang aku kurang bisa menangkap bahan pembicaraan mereka saat jam istirahat di ruang guru, sela-sela rapat, atau pertemuan-pertemuan rutin lain sekalipun sifatnya kekeluargaan. Maklumlah, aku sendiri belum berkeluarga, belum beristri. Jadi, ketika mereka mendiskusikan masa depan keluarga mereka, aku malah mendiskusikan kelangsungan hidup ikan peliharaan dan taman bunga di pekarangan belakang. Ketika sebagian dari mereka bekerja berdasarkan prinsip money oriented, maka aku masih bekerja berdasarkan prinsip funny oriented. Bukannya bermaksud menyombongkan diri tetapi memang kenyataannya ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa mereka selesaikan karena alasan tidak ada dana untuk operasional. Sebut saja untuk membuat media pembelajaran hingga mengganti ongkos photocopy kertas ulangan, semua kulakukan dengan sukarela. Maklumlah, dosenku selalu berpesan bahwa menjadi guru adalah pengabdian, kata-kata itu terekam kuat karena memang baru saja dinamkan, apalagi mengingat umurku yang baru 23 tahun memang tidak banyak pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan. Jadi, biarpun penghasilan sedikit tetapi cukuplah untuk menggratiskan siswa dari ongkos photocopy soal ulangan. Namun, aku juga menyadari suatu saat ketika aku akan menjadi seperti mereka, aku juga pasti akan mengalami hal yang sama karena saat mereka muda juga sudah mengalami yang aku alami saat ini. Singkat kata, aku pasti mengalami keadaan dimana pengeluaran bertambah, mati-matian menghidupi keluarga di rumah.

Kadang memang ada saja pikiran merasa seperti terjebak dengan profesiku, bahwa menjadi guru belumlah menjamin masa depan jika belum diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Wajarlah, gaji tetap, tanggungan pensiunan hari tua pula. Setiap orang tua pasti juga menginginkan menantu yang seperti itu. Ah, lama-lama pikiran seperti itu meresahkan juga, mengingat di negaraku ini proses seleksi calon pegawai negeri tidak dilakukan setiap hari, yang sudah bertahun-tahun mengajar saja masih belum diangkat menjadi pegawai negeri, apalagi diriku ini yang baru setahun ibarat bayi.

Satu-satunya cara untuk menghilangkan semua keresahan itu adalah dengan tidak memikirkannya lagi, lebih baiknya menuntut ilmu lagi, belajar lagi, sekolah lagi, kuliah lagi, mumpung masih ada biaya, mumpung dapat beasiswa.

BELAJAR LAGI

Saat ini, ketika aku menuliskan catatan ini, aku telah berada di tengah-tengah ruang perkuliahan program pascasarjana, yang baru kusadari aku dikelilingi guru-guru hebat penuh semangat. Aku menjadi satu-satunya yang paling muda di kelas ini. Sengaja aku masuk kelas ini karena tidak memungkinkan bagiku kuliah pagi hari, aku harus mengajar. Jadi, perkuliahan yang kuikuti adalah program perkuliahan sore hari. Awalnya aku pikir di kelas ini aku akan menjadi yang terpintar, tercerdas, mewakili sosok guru modern saat ini. Namun, justru bersama mereka aku menjadi sadar, bahwa menjadi guru tidak hanya sekadar urusan mengajar tetapi juga bagaimana menjalani hidup dengan tegar. Mereka semua berada di sini bukan tanpa tujuan. Sama sepertiku, mereka juga ingin belajar, dengan tulus mereka katakan ingin belajar. Sekarang saya mulai berpikiran bahwa kurang tepat rasanya jika pemerintah menyebutkan tujuan diadakannya sertifikasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, hal itu dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Nanti bisa-bisa para buruh menuntut diadakannya sertifikasi buruh, bisa repot kan? Mungkin akan lebih baik jika alasan diadakannya sertifikasi adalah untuk meningkatkan kualitas guru. Jadi tunjangan sertifikasi tidak melulu dipakai untuk melunasi cicilan rumah, atau menutupi hutang-hutang koperasi. Tetapi dipergunakan untuk sekolah ke jenjang lebih tinggi lagi, meningkatkan kualitas mengajar. Seperti seorang guru di sebelahku ini, yang jika dilihat dari umurnya lebih menyerupai kakekku saja. Namun, semangat belajarnya makin tua makin jadi. “Mumpung dapat tunjangan sertifikasi makanya saya kuliah lagi.” Katanya dengan tegas.

Ada banyak hal yang dapat aku petik dari sekumpulan orang-orang hebat ini. Jika dalam perdebatanku selalu memulai dengan kalimat “Menurut pendapat tokoh....dalam buku...” maka mereka memulainya dengan kalimat“ Menurut pengalaman saya.........” Itulah yang membedakan kami yang senior dan yang masih junior, dan itu pula yang memb uat aku begitu menghormati mereka, jika mereka mengutarakan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi di kelas, maka aku coba menawarkan beberapa solusi berdasarkan referensi yang belum sempat mereka baca. Biasanya solusi-solusiku akan terus-menerus dipertanyakan dengan problem-problem mengajar yang sudah bertahun-tahun mereka hadapi. Jika aku baru bereksperimen, mereka sudah berpengalaman, ketika aku menang dalam teori, mereka menang dalam praktik. Aku merasa benar-benar menang dari mereka hanya ketika kami mendapat tugas membuat paper. Aku tahu mereka sudah tidak bisa dibebani dengan hal-hal seperti itu lagi.


Diskusi-diskusi yang kami bangun selalu terasa menyenangkan karena masing-masing memiliki pandangan yang berbeda terhadap teknik dan cara mengajar. Tidak heran jika pada akhirnya mereka mulai mengadopsi caraku berbicara dan berpenampilan, pun aku juga demikian, mulai mengadopsi cara mereka memberikan perhatian terhadap siswa. Karena itulah selepas perkuliahan, aku selalu merasa seperti habis kembali dari masa depan, dan aku bisa mempersiapkan segala sesuatu yang akan aku hadapi lagi di masa yang akan datang.

Sabtu, 16 Mei 2009

ONO REGO ONO RUPO

*r.a.hartyanto

Seringkali muncul pertikaian antara masyarakat kaya dan miskin, dan ketika ini terjadi biasanya saya ikut membela yang miskin karena hegemoni masyarakat bahwa kaum miskin adalah minoritas, kebetulan dalam memandang suatu permasalahan saya suka membela pihak minoritas. Tetapi saat ini sepertinya kaum miskin bukan lagi kaum minoritas di negara kita. Sebaliknya, kaum miskin telah menjadi golongan mayoritas, jadi perihal menyikapi pendidikan yang semakin mahal, maka kali ini saya mencoba berada di pihak masyarakat kaya.

Banyak sekali demo yang dilakukan untuk menuntut pendidikan murah, bahkan tak jarang yang berdemo menuntut pendidikan murahan (tidak mau sekolah tetapi ingin punya ijazah). Media massa juga menurut saya terlalu berlebihan ketika mengangkat topik pelajar yang putus sekolah karena masalah perekonomian, hal seperti itu justru hanya akan semakin menusuk perasaan kaum miskin dan tidak mampu, kenapa tidak lebih baik mengangkat kisah pelajar miskin yang akhirnya menjadi sukses karena punya keinginan, motivasi yang tinggi serta usaha yang keras untuk sekolah. Bukankah itu dapat menjadi motivator serta inspirator bagi masyarakat lain yang perekonomiannya sulit namun ingin tetap sekolah?

Perihal tuntutan pendidikan murah.

Pendidikan itu bukan barang dagangan, jadi tidaklah dibenarkan jika kita ingin mendapatkan hasil besar dengan pengeluaran kecil untuk sebuah pendidikan. Pendidikan berkualitas pasti ditunjang dengan fasilitas, fasilitas itulah yang sifatnya tidak cuma-cuma, seperti pepatah Jawa: Ono’ Rego Ono’ Rupo, jadi ada uang ada pilihan, jika kita menganggarkan dana besar untuk sebuah pendidikan maka ada banyak pilihan pendidikan berkualitas.

Pertanyaannya adalah bagaimana masyarakat miskin bisa menganggarkan pengeluaran yang besar untuk pendidikan, sedang untuk hidup saja masih susah? Miskin memang takdir, tetapi Tuhan menentukan takdir umatnya berdasarkan amal perbuatannya sendiri. Orang bisa jadi kaya tidak secara tiba-tiba seperti jatuh dari langit, tetapi penuh dengan usaha dan do’a, sehingga untuk mendapatkan kekayaannya itu mereka dituntut untuk pintar, pintar dalam pendidikan juga pintar dalam memanfaatkan setiap peluang.

Tidak perlu kita mengeluh dan selalu bertanya kenapa pendidikan semakin mahal? Tetapi tanyakanlah kepada diri sendiri mengapa kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pendidikan yang semakin mahal?

Pada dasarnya kaya miskin adalah sama, yang membedakan adalah usaha dan do’a, perkara biaya pasti bisa diraih melalui dua hal tadi (usaha dan do’a). Apalagi bantuan pemerintah terhadap pendidikan untuk masyarakat tidak mampu sampai saat ini tidak pernah putus, meski pada pelaksanaannya di lapangan kurang efektif karena banyaknya oknum (yang saya sebut merekalah sebenarnya yang tidak berpendidikan) dari dinas pendidikan yang menyunat dana bantuan pemerintah.

Jadi, tidak perlu lagi ada kecemburuan sosial ketika ada pelajar dari kalangan orang kaya yang bisa berprestasi tinggi karena kepintarannya sebab hal itu memang wajar, toh kesempatan yang sama untuk menjadi pintar dan berprestasi juga dimiliki pelajar dari kalangan orang miskin. Jika ada orang miskin yang pintar dan berprestasi, maka hal itu menjadi lebih luar biasa lagi dan amat sangat perlu untuk dibanggakan.....

Selamatkan pendidikan dari kepunahan...